(7) Pergi kepada
bangsa-bangsa lain
Kisah Para
Rasul 18:1-17
Rasul Paulus
beberapa kali menghadapi tantangan dalam melakukan pelayanannya. Ia dicurigai,
dimusuhi, dan dihujat oleh orang-orang Yahudi sendiri, yang adalah
saudara-saudaranya. Demikian juga pengalamannya di Korintus. Tidak mengherankan
ia memutuskan untuk fokus pada bangsa-bangsa nonYahudi.
(6) Tetapi ketika orang-orang itu memusuhi dia dan
menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka:
"Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak
bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain."
Namun ketika
ia tidak lagi datang ke sinagoge dan tinggal di rumah Titius Yustus, justru
kepala rumah ibadah sekeluarga menjadi percaya kepada Tuhan. Bukan Paulus yang
bekerja. Ketika ia patah semangat, Tuhan yang melakukan pekerjaan-Nya.
(7) Maka keluarlah ia dari situ, lalu datang ke
rumah seorang bernama Titius Yustus, yang beribadah kepada Allah, dan yang
rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat.
(8) Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis.
(8) Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis.
Melayani
Tuhan bukanlah suatu hal yang mudah dan ringan. Tantangan, baik dari luar
maupun dari dalam, adalah hal lumrah. Malahan menjadi tidak lumrah jika tidak
ada masalah dalam menyaksikan Kristus. Bukan hanya kurban perasaan dan harta,
bahkan nyawa seringkali menjadi taruhannya. Hal yang dialami oleh Rasul Paulus
ini juga dialami oleh para hamba-Nya dalam pelayanan apa pun di seluruh dunia,
disepanjang sejarah gereja.
Ketika
pelayanan berjalan lancar tanpa masalah, kita bisa terlena dan merasa bahwa
yang kita kerjakan ialah pekerjaan kita, sehingga keberhasilannya juga
keberhasilan sendiri. Akibatnya ketika tantangan datang, kita menjadi kecewa
dan tawar hati. Saat seperti itu, kita perlu introspeksi dan menata ulang hati
kita. Kita hanyalah hamba. Tuhanlah yang akan berkarya melalui ketaatan dan
kesetiaan kita melayani.
Tuhan
menjanjikan penyertaan-Nya kepada Paulus, juga kepada kita.
(9) Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada
Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan
firman dan jangan diam!
(10) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini."
(10) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini."
Bukan berarti
kesulitan tidak ada lagi. Namun di dalam kekecewaan dan sakit hati melayani,
ingatlah bahwa ini bukan usaha dan kekuatan kita. Serahkan pada Tuhan, Sang
Empunya pelayanan. Lihat, Dialah yang akan berkarya indah pada waktu-Nya.
(11) Maka tinggallah Paulus di situ selama satu
tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka.
(12) Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan.
(13) Kata mereka: "Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat."
(14) Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: "Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu,
(15) tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya; aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian."
(16) Lalu ia mengusir mereka dari ruang pengadilan.
(17) Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.
(12) Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan.
(13) Kata mereka: "Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat."
(14) Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: "Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu,
(15) tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya; aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian."
(16) Lalu ia mengusir mereka dari ruang pengadilan.
(17) Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.