Selamat datang di Crent Regeneration.

Terimakasih atas kunjungan anda.
"Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,"
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."(Ef 2:19,8-10)

1/29/2012

WAKTUNYA BELUM TIBA?

WAKTUNYA BELUM TIBA?
Hagai 1: 1-11.

Nats : "Beginilah firman Tuhan semesta alam: Bangsa ini berkata: sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan!" (Hagai 1:2)

Waktu anak-anak saya masih ABG (Anak Baru Gede), saya sempat jengkel dengan beberapa sikap mereka. Demi mencari identitas dan jati diri, meski usia belum cukup, mereka kerap nekat nonton film 17 tahun ke atas atau naik motor sendiri. Mereka merasa sudah cukup dewasa. Namun, saat diminta melakukan tanggung jawab tertentu, mereka kerap berdalih, "Kami belum dewasa. Belum waktunya untuk itu!" Dewasa bagi mereka identik dengan memprioritaskan hal-hal yang menjadi hasrat dan keinginan diri mereka sendiri.

Bangsa Israel pernah membuat dalih serupa. Setelah kembali dari tanah pembuangan, mereka diberi tanggung jawab mendirikan rumah Tuhan. Namun, mereka tak melakukannya. Mereka merasa belum waktunya membangun kembali kehidupan sebagai umat Tuhan jika kehidupan mereka sendiri belum mapan. Mereka memilih tinggal dulu di rumah masing-masing (ayat 4). Prioritas yang terbalik ini menghasilkan kehidupan yang tak semestinya (ayat 6). Tuhan mau mereka memperhatikan keadaan ini dan kembali kepada prioritas yang benar, agar kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui mereka (ayat 8).

Sebagai umat Tuhan, apakah prioritas hidup kita juga kerap terbalik? Apakah hari-hari kita hanya dipicu dan dipacu untuk mengejar kemapanan dan identitas dambaan sendiri? Dan, seperti pundi-pundi yang berlubang, kita tak juga merasa puas atau penuh? Tuhan mau kita pun memperhatikan keadaan ini. Dia mau kita memiliki prioritas untuk membangun "rumah persekutuan dengan Tuhan", dan menemukan identitas kita di dalam hal-hal yang berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya.
TEMUKAN IDENTITAS SEJATI DI DALAM TUHAN

DENGAN MENGUTAMAKAN HAL-HAL YANG TUHAN PERKENAN. RM
Published with Blogger-droid v2.0.4

MEMANCARKAN TERANG.

MEMANCARKAN TERANG.
Markus 4:21-25

Firman berkuasa mengubah hati manusia bila orang bersedia membuka diri agar firman beroperasi di dalam hidupnya. Bila manusia memiliki hati seperti tanah yang subur maka firman akan bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan orang tersebut. Akan tetapi, orang tidak boleh bersikap egois setelah mendengar firman dan mengalami karya firman di dalam hidupnya. Ia memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan atau memberitakan firman itu kepada orang lain.

Orang tidak akan menyembunyikan hal-hal yang berharga untuk selamanya. Misalnya orang memiliki perhiasan/permata tentu bukan dengan tujuan untuk disimpan, melainkan untuk dipakai sekaligus dilihat orang. Bisa saja orang itu akan menyimpannya untuk sementara waktu, tetapi akan ada masanya orang itu memamerkannya kepada orang lain. Jika orang menyembunyikan permatanya terus maka akan ada risiko terlupa atau malah akan hilang. Orang hanya menyimpannya dengan maksud melindunginya. Jika permata hanya disimpan saja maka permata itu kehilangan kegunaan yang semestinya.

Terang firman Tuhan juga tidak boleh disembunyikan (21). Tuhan memberikan kita terang bukan untuk disembunyikan. Jika kita memiliki terang firman Allah maka kita bertanggung jawab untuk menyebarkan kebenaran firman dalam tiap kesempatan yang Allah bukakan bagi kita. Terang firman Tuhan berguna untuk menolong orang agar tidak tersesat di jalan hidupnya.

Oleh karena itu kita harus memperhatikan dengan cermat setiap pengajaran firman yang kita dengar karena Allah akan memberi respons sesuai respons yang kita berikan terhadap firman-Nya. Jika kita punya kebiasaan yang baik terhadap firman (misal: baca Alkitab setiap hari) dan kita hidup di di dalamnya, maka akan ada hal-hal baik yang dibangun di atasnya. Jika orang memberi respons secara tepat, maka Allah akan memberikan kerinduan untuk lebih banyak mendengar firman, pemahaman yang lebih baik tentang firman yang didengar, dan berkat-berkat dari apa yang didengar. ©®
Published with Blogger-droid v2.0.4

1/28/2012

HAMBA KRISTUS.

HAMBA KRISTUS.
1 Korintus 4:1-21

Nats : Demikianlah hendaknya orang memandang kami:sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah (1Korintus 4:1)

Bagaimana rasanya kalau ada orang yang memanggil atau memperlakukan Anda dengan sebutan "hamba"? Dalam Alkitab, "hamba" berasal dari kata doulos yang berarti "budak belian", yang tidak memiliki hak apa pun dalam hidupnya kecuali ia ditebus orang atau dibebaskan oleh majikan yang murah hati. Kristus menyebut pengikut-Nya sebagai murid dan sahabat-Nya, bukan hamba (lihat Yohanes 13:35; 15:15). Namun, Dia sendiri meneladankan hidup sebagai seorang hamba, dan mengajarkan bagaimana seharusnya para murid bersikap sebagai seorang hamba (lihat Yohanes 13:1-20; Lukas 17:7-10)

Rasul Paulus sering menyebut sendiri dirinya dan teman-temannya sebagai hamba-hamba Kristus (lihat Roma 1:1; Titus 1:1; Filipi 1:1), sama seperti yang kita baca hari ini. Bukan dengan nada sedih atau terpaksa, melainkan dengan nada bangga, karena Tuhan memercayakan kepada mereka tugas yang penting (ayat 1). Dalam perselisihan jemaat Korintus (lihat pasal 3), Paulus tidak memegahkan diri sebagai pemimpin yang hebat. Bukan penilaian orang yang penting baginya, tetapi penilaian Tuhan (ayat 3-4). Mengapa? Karena ia adalah hamba-Nya.

Bagaimana kita memandang diri kita di hadapan Tuhan? Kesadaran bahwa kita adalah budak dosa yang telah ditebus oleh Kristus seharusnya membanjiri hati kita dengan rasa syukur dan kasih kepada Dia yang telah membebaskan kita. Mendorong kita menjalani setiap hari bukan untuk menyenangkan orang lain melainkan untuk menyenangkan Sang Pemilik hidup kita. Seperti Paulus, kita bangga dikenal sebagai hamba-hamba Kristus.

MELAYANI TUHAN ADALAH SUKACITA DAN KEHORMATAN

SIAPAKAH AKU HINGGA BOLEH MENJADI HAMBA-MU? ©®
Published with Blogger-droid v2.0.4

MENYAMBUT FIRMAN TUHAN.

MENYAMBUT FIRMAN TUHAN.
Markus 4:1-20

Ilmu pertanian dapat menjelaskan bahwa selain mutu benih tanaman yang ditabur maka kesuburan tanah juga menentukan tumbuh tidaknya benih. Jika kedua faktor ini saling mendukung maka benih akan tumbuh baik dan menghasilkan buah yang baik pula. Sebaliknya, meskipun benih baik yang ditanam, tetapi jika tanahnya tidak subur maka benih tidak akan tumbuh optimal.

Demikian halnya dengan kehidupan rohani, firman Tuhan digambarkan sebagai benih yang ditaburkan dalam hati setiap orang (14). Namun keadaan hati seseorang ketika mendengar firman Tuhan juga berpengaruh terhadap kehidupan rohani selanjutnya. Keadaan hati yang tidak baik digambarkan seperti tanah di pinggir jalan, tanah berbatu, dan tanah bersemak duri (4-7). Ketiga macam tanah ini tidak memungkinkan benih bertumbuh dengan baik.

Itulah gambaran orang yang telah mendengarkan firman Tuhan, tetapi hidup kerohaniannya tidak mengalami pertumbuhan (15-19). Ada orang yang sudah lama menjadi jemaat suatu gereja, tetapi hidupnya masih kekanak-kanakan karena ia hanya mau mendengar firman Tuhan saja, tetapi tidak mau dibentuk sesuai firman tersebut. Maka setiap firman yang didengar berlalu begitu saja tanpa mendatangkan perubahan apa-apa.

Sedangkan keadaan hati yang baik digambarkan sebagai tanah yang subur sehingga memungkinkan benih dapat tumbuh dan menghasilkan buah lebat sesuai harapan penabur. Inilah gambaran orang yang mendengarkan firman Tuhan kemudian mengalami pertumbuhan sehingga ia bertumbuh ke arah kedewasaan rohani (8, 20). Ini bisa terjadi karena ia tidak hanya mendengarkan firman saja, tetapi juga bersedia menempatkan firman sebagai ketentuan tertinggi yang mengontrol hidupnya.

Bersediakah kita menyambut firman-Nya? Setiap orang mempunyai kesempatan sama untuk mendengarkan firman Tuhan, tetapi hanya orang yang memiliki sikap hati mau menyambut firman dengan benar yang akan mengalami kehidupan rohani yang bertumbuh dan berbuah. ©®
Published with Blogger-droid v2.0.4

TENANG DI TENGAH BADAI.

TENANG DI TENGAH BADAI.
Markus 4:35-41

Danau Galilea merupakan muara dari sungai Yordan yang mengalir dari arah utara. Dalam keadaan biasa danau Galilea tampak tenang, tetapi sewaktu-waktu bisa terjadi badai. Danau Galilea memang terletak di lembah yang dikelilingi bukit-bukit, sehingga memungkinkan angin bertiup secara tiba-tiba dari atas bukit.

Setelah melayani orang banyak hingga sore hari, Yesus mungkin kelelahan dan ingin beristirahat hingga mengajak murid-murid menyeberang danau dan menjauh dari orang banyak (35-36). Benar saja, Yesus pun tertidur (38). Namun saat Yesus tertidur, terjadi badai yang sangat dahsyat, yang membuat murid-murid menjadi takut (37-38). Beberapa dari antara murid-murid adalah mantan nelayan berpengalaman, karena itu mereka tahu betul betapa mengerikannya bahaya yang menghadang mereka akibat badai dahsyat itu. Dalam kesibukan upaya untuk mengatasi masalah yang sedang melanda, mereka membangunkan Yesus (38). Mereka bukan meminta pertolongan Yesus, melainkan memprotes Dia atas ketidakpedulian-Nya terhadap masalah yang sedang terjadi. Seharusnya Ia bangun dan bersama mereka mengatasi masalah tersebut, mungkin dengan ikut membantu mereka membuang air yang memenuhi perahu. Toh Yesus berada dalam bahaya yang sama, seperti yang mereka hadapi. Kita pun sering berada dalam situasi yang sama. Kita ingin Yesus menolong kita, dengan bentuk pertolongan seperti yang ada dalam pikiran kita.

Yesus kemudian menegur mereka karena mengira bahwa Dia tidak memedulikan mereka (40). Itu menunjukkan bahwa mereka belum mengenali siapa Yesus yang sesungguhnya. Ketika kita mengira bahwa Yesus tidak peduli pada kita, itu menunjukkan bahwa kita tidak percaya pada Dia.

Padahal Yesus adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Jika Dia ada dalam hidup kita, maka tidak ada masalah yang dapat menenggelamkan kita.Memang perlu iman yang cukup besar untuk tahu bahwa Yesus peduli, meskipun kelihatannya tidak begitu. Namun inilah iman yang Tuhan ingin bangun dalam hidup kita.
©®
Published with Blogger-droid v2.0.4

1/25/2012

TIDAK MERESPONS POSITIF.

TIDAK MERESPONS POSITIF.
Markus 3:7-12

Rencana para pemimpin agama untuk membunuh Yesus membuat Ia menyingkir (7). Namun nama Yesus rupanya telah terdengar hingga ke berbagai penjuru sehingga ada banyak orang yang datang menemui Yesus. Bahkan ada yang datang dari tempat jauh (7-8). Sayangnya, Yesus terkenal sebagai pembuat mukjizat dan bukan sebagai pengajar firman. Ketertarikan mereka muncul bukan karena melihat keilahian Yesus sehingga rindu untuk menyembah Dia, melainkan karena mereka ingin mengalami mukjizat. Ini sangat memprihatinkan. Apabila fokus ketertarikan mereka bukan pada pribadi Yesus, melainkan hanya pada apa yang Yesus lakukan bagi mereka maka ketertarikan mereka pada Yesus tidak akan berumur panjang. Dan ketertarikan itu tidak akan ditindaklanjuti dalam bentuk komitmen pribadi untuk menjadi pengikut Yesus.

Mari kita bandingkan sikap orang-orang itu dengan sikap roh-roh jahat yang tersungkur di hadapan Yesus. Roh-roh itu tidak memiliki tubuh fisik, sehingga memaksa tubuh yang mereka rasuki untuk tunduk di depan Yesus. Ini ironis, karena roh-roh jahat ini mengenal Yesus dan memberikan kesaksian yang benar tentang Yesus dan bahkan bersikap benar terhadap Yesus, yaitu tunduk. Meski demikian, respons semacam ini pun tidak serta merta membuat roh-roh jahat itu mengikut Kristus.

Dari sikap orang banyak yang mencari Yesus karena ingin mencari keuntungan diri dan sikap roh-roh jahat yang tunduk di hadapan Yesus karena tahu siapa Yesus sesungguhnya, kita dapat melihat bahwa tanggapan dari kedua pihak tersebut sama sekali tidak melahirkan suatu respons aktif yang positif, yaitu munculnya komitmen pribadi untuk mengikut Tuhan Yesus.

Kisah ini menegur kita, apakah pernyataan bahwa kita adalah seorang Kristen benar-benar menggambarkan bahwa kita adalah pengikut Kristus yang sejati, yang mengikuti Dia bukan karena keuntungan pribadi? Ingatlah bahwa tidak cukup hanya mengetahui bahwa Kristus adalah Anak Allah, tanyakanlah diri kita sendiri apakah pengetahuan itu nyata juga dalam hidup kita sesehari? ©®
Published with Blogger-droid v2.0.4

MENERUSKAN PELAYANAN YESUS.

MENERUSKAN PELAYANAN YESUS.
Markus 3:13-19

Yesus berada dalam masa-masa kritis. Kita tahu bahwa ada orang-orang yang tengah mengincar kematian-Nya. Bahkan kelompok-kelompok yang sebenarnya tidak akur pun jadi berkoalisi untuk membunuh dia.

Memang banyak orang yang mengikut Yesus, tetapi mereka tidak tertarik pada pengajaran-Nya sehingga bisa saja sewaktu-waktu mereka berbalik menentang Dia. Lalu apa yang harus Yesus lakukan? Ia menyendiri dan berdoa semalam-malaman (Luk. 6:12). Keesokan harinya Ia memilih dua belas orang untuk menjadi murid-murid-Nya (14, 16-19).

Yesus tahu bahwa keberadaan-Nya di dunia ini tidak akan lama. Maka Ia harus mengatur strategi agar firman-Nya tetap dikabarkan di antara manusia. Maka Ia memilih kedua belas orang itu untuk mempersiapkan mereka agar dapat diutus untuk melanjutkan tugas pelayanan-Nya.

Pada abad pertama, seorang murid bukan hanya belajar di ruang kelas. Murid harus hidup mengikuti gurunya. Maka begitulah tugas utama orang-orang yang dipilih Yesus untuk menjadi murid, mereka harus selalu berada bersama-sama dengan Yesus dan belajar dari Dia. Sebelum mereka diutus untuk melanjutkan karya Yesus, mereka harus terlebih dahulu hidup bersama Yesus dan belajar dari Dia. Yesus juga memberi mereka kuasa untuk mengusir setan-setan.

Siapakah orang-orang yang dipilih Yesus (16-19)? Kedua belas orang ini tidak memiliki kualifikasi istimewa: mereka tidak kaya, bukan berasal dari strata sosial tinggi, juga tidak berpendidikan tinggi. Semuanya orang biasa-biasa saja. Kepribadian mereka berbeda, riwayat hidup mereka pun tidak sama. Namun Yesus memilih mereka karena Ia ingin menunjukkan bahwa Allah dapat dimuliakan melalui orang-orang biasa seperti itu. Ia memilih yang lemah supaya kekuatan-Nya nyata menyempurnakan kelemahan mereka.

Maka kerinduan untuk melayani Yesus seharusnya lahir bukan semata karena merasa diri mampu dan layak. Kiranya itu lahir dari rasa syukur atas kasih karunia-Nya dengan kerinduan agar Injilnya semakin luas diberitakan di muka bumi. ©®
Published with Blogger-droid v2.0.4