Selamat datang di Crent Regeneration.

Terimakasih atas kunjungan anda.
"Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,"
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."(Ef 2:19,8-10)

9/17/2011

"MENANTI KARYA ALLAH"

Kejadian 8:1-14
Kita tahu bahwa menunggu merupakan pekerjaan yang menjemukan. Apalagi zaman ini memicu orang untuk melakukan segala sesuatu secara instan.

Nuh dan keluarganya sudah terombang-ambing di dalam bahtera selama seratus lima puluh hari (3). Tanpa peralatan navigasi dan tanpa seorang pun yang memiliki keahlian berlayar di dalam bahtera itu. Sungguh Allah menyertai mereka.

Meski selamat dari air bah, tetapi mereka belum kembali ke kehidupan mereka semula. Lalu Tuhan menghentikan hujan serta menyurutkan air bah hingga bahtera itu kandas di pegunungan Ararat. Puncak-puncak gunung pun mulai terlihat (1-5). Meski demikian mereka masih harus menunggu sampai Tuhan membebaskan mereka. Namun Nuh tidak tinggal diam. Ia ingin mengetahui perkembangan situasi di luar bahtera. Untuk itu ia melepaskan seekor burung gagak (7), lalu burung merpati (8-9). Namun belum ada tanda-tanda bahwa air telah surut. Nuh masih harus menunggu (10-12) sampai ada tanda bahwa bumi telah kering. Dan terbukti kemudian bahwa burung merpati yang dilepaskan oleh Nuh tidak kembali lagi ke dalam bahtera (11-12). Walau demikian Nuh tidak serta merta keluar dari bahtera. Ia masih harus menantikan perintah Allah untuk meninggalkan bahtera itu.

Penantian Nuh di dalam bahtera dan kesabarannya menunggu Allah membebaskan dia beserta keluarganya, menjadi teladan penting bagi kita.

Tidak banyak orang yang bersedia menunggu Allah menyatakan karya-Nya dan tidak banyak orang yang mau berdiam saat Allah memproses mereka. Kebanyakan orang menginginkan doanya cepat terjawab, tanpa merasa perlu tahu bahwa Allah punya maksud membentuk pribadi dalam proses penantian jawaban doa. Ada juga aktivis gereja yang ingin cepat mahir membawakan renungan dengan mempelajari tekhniknya, tetapi tidak mau sediakan waktu untuk menelaah Alkitab secara saksama, melalui metode Baca Gali Alkitab, misalnya. Padahal Alkitablah pokok khotbahnya.

Anda sedang mengharapkan Allah menantikan karya-Nya di dalam hidup Anda? Nantikanlah dengan penuh ketekunan di dalam doa.

Published with Blogger-droid v1.7.4

"MENJADI UTUSAN KRISTUS"

"MENJADI UTUSAN KRISTUS"
Kejadian 10:1-32
Bacaan Alkitab hari ini merupakan daftar bangsa-bangsa yang menjadi keturunan Sem, Ham, dan Yafet. Ketiganya adalah anak-anak Nuh.

Dalam daftar tersebut, keturunan Yafet (2-5) dan Ham (6-20) dituliskan secara keseluruhan oleh penulis kitab Kejadian. Tidak demikian dengan keturunan Sem. Sem adalah anak tertua dari tiga bersaudara, tetapi penyebutan silsilahnya diletakkan paling terakhir (21-31). Namun sang penulis memperhatikan hubungan antara Sem dan Yafet, yaitu bahwa Sem adalah abang Yafet (21). Penyebutan nama Sem dan Yafet bersama-sama tanpa mengikutsertakan nama Ham signifikan dengan ucapan berkat atas Sem dan Yafet yang kita baca beberapa hari yang lalu (Kej. 9:26-27).

Penyebutan Sem sebagai 'bapa semua anak Eber' seolah merupakan pendahuluan atas daftar silsilah yang tertulis sesudahnya. Dan kita akan melihat keterkaitan antara kisah yang ada sebelum dan sesudah kedua daftar tersebut, yaitu kisah Nuh dan anak-anaknya, kisah menara Babel, dan kisah Abram dipanggil Allah.

Daftar keturunan Sem diulangi kembali setelah kisah menara Babel (Kej. 11:1-9). Namun ada pemisahan garis keturunan antara keturunan Peleg dan keturunan Yoktan, anak-anak Eber. Penulis daftar ini menyebutkan bahwa pada zaman Peleglah bumi terbagi (25). Lalu dalam garis keturunan Peleg, kita akan menemui nama Abram, yang kemudian disebut sebagai bapak orang beriman (Kej. 11:10-26).

Melalui nama-nama dan kisah-kisah yang terkait, kita melihat bagaimana Allah berintervensi dalam kehidupan dan sejarah manusia. Dan di dalam kesemuanya itu, Dia memilih orang-orang tertentu dan melibatkan mereka untuk menggenapkan rancangan-Nya.

Kita dan keturunan kita serta orang-orang yang berada dalam lingkaran iman kita sebenarnya adalah orang-orang yang dapat Tuhan pakai untuk menggenapkan rancangan-Nya bagi dunia. Lalu di mana dan bagaimana kita dapat ambil bagian? Terlibatlah dalam berbagai bentuk pelayanan dan doakanlah, niscaya Tuhan akan menuntun kita ke tempat yang Tuhan sediakan bagi kita.
Published with Blogger-droid v1.7.4

9/13/2011

"BUKAN KARENA JUMLAH"

"BUKAN KARENA JUMLAH"
Lukas 21:1-4
Pengamatan yang cermat akan memberikan gambaran yang utuh terhadap sesuatu yang kita lihat. Bacaan kita hari ini menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di Bait Allah.

Setelah sekian lama dan hampir setiap kali Yesus mengajar dan memberitakan Injil-Nya, di Bait Allah, kali ini Yesus mengamati orang-orang yang memasukkan persembahan di peti persembahan (1). Orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka. Kemudian seorang janda miskin memasukkan juga persembahannya, yang hanya berjumlah dua peser. Jumlah yang sangat minim bila dibandingkan dengan persembahan orang-orang kaya. Inilah kemudian yang di komentari oleh Yesus. Jika dikaitkan dengan perikop sebelumnya, dicantumkan bahwa ahli-ahli Taurat menelan janda-janda, artinya mereka tega menekan kehidupan janda-janda yang miskin, tetapi janda miskin yang berada di Bait Allah itu mempersembahkan apa yang terbaik yang ia punyai, yaitu seluruh miliknya (4). Ia memberikan tanpa rasa khawatir akan kehabisan uang untuk membiayai hidupnya sepulang dari Bait Allah. Sungguh suatu kontras: janda miskin memberi dari kekurangannya, orang-orang kaya memberi dari kelebihannya. Janda miskin memberikan seluruh miliknya meski hanya berjumlah dua peser, orang-orang kaya itu memberikan sebagian kecil saja dari miliknya, walau jumlahnya lebih besar dari jumlah persembahan si janda.

Maka Yesus menyorot hati manusia lebih dalam ketika memberikan persembahan kepada Tuhan. Bagi orang yang berkelimpahan, tentu tidak sulit memberi dalam jumlah banyak, karena itu masih sebagian kecil dari milik mereka. Persoalan akan jadi berbeda, ketika orang hanya memiliki sedikit harta. Apakah masih bersedia memberi dalam jumlah banyak? Namun tidak tertarik pada jumlah persembahan yang kita beri. Dia lebih tertarik pada motivasi hati yang mendorong persembahan tersebut. Mari kita belajar untuk memberi persembahan tanpa hitung-hitungan, tetapi dengan tulus sebagai ucapan syukur atas berkat dan pemeliharaan Tuhan.(RM)
Published with Blogger-droid v1.7.4

"BUKAN KARENA JUMLAH"

"BUKAN KARENA JUMLAH"
Lukas 21:1-4
Pengamatan yang cermat akan memberikan gambaran yang utuh terhadap sesuatu yang kita lihat. Bacaan kita hari ini menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di Bait Allah.

Setelah sekian lama dan hampir setiap kali Yesus mengajar dan memberitakan Injil-Nya, di Bait Allah, kali ini Yesus mengamati orang-orang yang memasukkan persembahan di peti persembahan (1). Orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka. Kemudian seorang janda miskin memasukkan juga persembahannya, yang hanya berjumlah dua peser. Jumlah yang sangat minim bila dibandingkan dengan persembahan orang-orang kaya. Inilah kemudian yang di komentari oleh Yesus. Jika dikaitkan dengan perikop sebelumnya, dicantumkan bahwa ahli-ahli Taurat menelan janda-janda, artinya mereka tega menekan kehidupan janda-janda yang miskin, tetapi janda miskin yang berada di Bait Allah itu mempersembahkan apa yang terbaik yang ia punyai, yaitu seluruh miliknya (4). Ia memberikan tanpa rasa khawatir akan kehabisan uang untuk membiayai hidupnya sepulang dari Bait Allah. Sungguh suatu kontras: janda miskin memberi dari kekurangannya, orang-orang kaya memberi dari kelebihannya. Janda miskin memberikan seluruh miliknya meski hanya berjumlah dua peser, orang-orang kaya itu memberikan sebagian kecil saja dari miliknya, walau jumlahnya lebih besar dari jumlah persembahan si janda.

Maka Yesus menyorot hati manusia lebih dalam ketika memberikan persembahan kepada Tuhan. Bagi orang yang berkelimpahan, tentu tidak sulit memberi dalam jumlah banyak, karena itu masih sebagian kecil dari milik mereka. Persoalan akan jadi berbeda, ketika orang hanya memiliki sedikit harta. Apakah masih bersedia memberi dalam jumlah banyak? Namun tidak tertarik pada jumlah persembahan yang kita beri. Dia lebih tertarik pada motivasi hati yang mendorong persembahan tersebut. Mari kita belajar untuk memberi persembahan tanpa hitung-hitungan, tetapi dengan tulus sebagai ucapan syukur atas berkat dan pemeliharaan Tuhan.()
Published with Blogger-droid v1.7.4

"MENANTI HARI TUHAN"

"MENANTI HARI TUHAN"
Lukas 21:34-38
Tentu Anda sering mendengar peribahasa "Sedia payung sebelum hujan". Maksudnya, lakukan antisipasi sebelum suatu masalah terjadi. Tujuannya, agar ketika suatu masalah terjadi, orang dapat mengatasinya dengan baik.

Karena kedatangan Tuhan akan menimpa semua orang (35), Yesus menasihati murid-murid-Nya agar waspada dan berjaga-jaga sebelum hari Tuhan datang. Bagaimana caranya? Dengan menjauhkan diri dari berbagai kesenangan duniawi yang dapat melenakan mereka. Mereka harus menghindarkan diri dari kehidupan yang tidak kudus (34). Kalau mereka tidak waspada dan berjaga-jaga, hari Tuhan akan menjadi jerat bagi mereka (34). Oleh karena itu, Tuhan Yesus mendorong murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga dan berdoa agar ketika hari Tuhan itu datang, mereka luput dari murka Allah dan beroleh kekuatan untuk berdiri di hadapan Tuhan (36).

Bila seseorang yang Anda hormati dan kagumi akan mendatangi rumah, tempat Anda tinggal, tentu Anda akan mempersiapkan diri sedemikian rupa untuk menyambut kedatangannya. Lalu bagaimana bila Tuhan yang akan datang? Akankah Anda menyambut dengan penuh suka cita atau malah gentar?

Hari Tuhan memang datang seperti pencuri (2 Ptr. 3:10). Artinya, kita tidak tahu kapan peristiwa itu akan terjadi. Hanya Allah yang tahu. Walau demikian, hari kedatangan Tuhan tidak terjadi secara tiba-tiba sehingga orang merasa terkejut karena tidak sempat mempersiapkan diri. Tuhan sudah memberitahukan hal ini jauh-jauh hari sebelumnya. Maka kita harus hidup seolah-olah hari Tuhan akan datang besok. Ingatlah, cepat atau lambat hari itu akan tiba, yakni pada waktu yang Dia tentukan.

Sebagai murid Tuhan, kita harus berjaga-jaga seraya berdoa (36) agar kuat bertahan menghadapi kesulitan yang harus kita alami sebagai pengikut Kristus. Sebab itu, mari lihat kembali hidup kita, sudahkah kudus di dalam segala sesuatunya? Tetaplah kuat bertahan dalam godaan dan cobaan karena pengharapan bahwa pada saat datang kelak, Tuhan akan membawa kita bersama Dia ke surga mulia.(RM)
Published with Blogger-droid v1.7.4

9/11/2011

""KOMITMEN YANG GAGAL

Lukas 22:54-62
Judul: Komitmen yang gagal
Komitmen merupakan kata yang akrab di telinga kita. Bagi banyak orang maupun organisasi, komitmen adalah sesuatu yang penting bagi tercapainya suatu tujuan. Namun komitmen itu bisa saja gagal di tengah jalan. Maka sebagai akibat, proses kehidupan seseorang atau organisasi itu akan mengalami gangguan.

Petrus gagal dalam komitmennya untuk mengikut Tuhan dalam segala keadaan (Luk. 22:33). Diperhadapkan dengan tudingan orang, Petrus menciut dan menyangkal. Padahal ia sudah sejauh ini tegar mengikuti penangkapan Yesus sampai di halaman rumah imam besar.Lalu mengapa Petrus bisa gagal?

Sebenarnya kegagalan Petrus telah dinubuatkan Yesus dalam perjamuan Paskah terakhir (Luk. 22:34). Namun secara menarik, dalam konteks percakapan yang sama, Kristus juga menyatakan bahwa apa yang dialami Petrus merupakan salah satu bentuk penampian Iblis. Jadi di satu sisi Iblis mencoba menghancurkan Petrus, tetapi di sisi lain Tuhan Yesus sedang membentuk dalam diri Petrus suatu karakter kerendahhatian untuk bersandar pada Allah. Yesus selanjutnya juga berpesan kepada Petrus agar dikemudian hari ia menguatkan para saudaranya (Luk. 22:31-32). Dan kelak setelah peristiwa Pentakosta, kita akan melihat bahwa pesan Yesus ini digenapi. Petrus yang dipenuhi oleh Roh Kudus menunjukkan komitmen dan kesetiaan yang luar biasa dalam pelayanan pemberitaan Injil, sebagaimana yang dicatat dalam kitab Kisah Para Rasul.

Sebagai pribadi yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus, mungkin kita juga sering gagal dalam memenuhi komitmen kita untuk setia kepada Dia. Hal ini mungkin terjadi karena kita cenderung menggunakan kekuatan kita sendiri dalam mempertahankan komitmen tersebut. Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak dalam kegagalan terus menerus, marilah kita bersandar pada kekuatan Roh Kudus. Apabila suatu saat kita harus mengalami kegagalan, janganlah kita cepat berputus asa, tetapi perbaharuilah komitmen kita itu dengan tetap bersandar dan mengandalkan kekuatan Roh Kudus.
Published with Blogger-droid v1.7.4

"KARENA IMAN"

Yosua 2:1-7

Yosua adalah salah seorang dari dua belas mata-mata yang dulu dikirim oleh Musa untuk mengintai Kanaan. Kini berbalik, Yosualah yang mengirimkan dua mata-mata untuk mengintai kota Yerikho. Yosua ingin mendapatkan informasi mengenai Yerikho agar dapat menyusun strategi yang tepat untuk merebut kota itu.

Rahab mungkin mengenali kedua orang itu sebagai pendatang dan karena ada peringatan mengenai kemungkinan kehadiran mata-mata, ia menyimpulkan bahwa kedua orang itu adalah orang Israel. Maka ia mengundang mereka ke rumahnya untuk bersembunyi. Rahab, seorang perempuan sundal, memilih berbohong dan mengambil risiko guna menyelamatkan dua mata-mata Israel. Mengapa? Karena dia mengimani Allah Israel. Dia yakin, suatu saat Israel akan menaklukkan Yerikho karena Allah Israel berkuasa. Pada saat itu rajanya sekalipun tidak akan mampu melindungi dia. Maka Rahab berharap agar Allah Israel melepaskan dia dari bahaya itu. Rahab mungkin tidak tahu banyak tentang Allah Israel, tetapi ada satu hal yang dia yakini yaitu bahwa Allah Israel adalah Allah yang Maha Kuasa.

Selain memahami situasi sosial-politik secara global, Rahab ternyata memiliki kepekaan spiritual yang memampukan dia memilih beriman kepada Allah Israel. Dalam hal iman, Rahab menjadi teladan bagi kita. Di tengah situasi dunia yang gonjang ganjing, dia tahu bahwa ada yang bisa dia percayai sebagai tempat perlindungan sejati, yaitu Allah Israel, yang Maha Kuasa.

Kita saat ini hidup dalam dunia yang tidak menentu. Perang terjadi silih berganti di berbagai belahan dunia dan bencana alam menimpa negeri-negeri yang punya peranan penting, ini membuat dunia dilanda krisis ekonomi. Akibatnya banyak orang yang kalut memikirkan cara berinvestasi agar hartanya tidak habis digerus krisis. Sementara yang tidak berpunya hanya bisa pasrah pada nasib. Lalu bagaimana dengan kita, yang menyebut diri beriman? Tak perlu khawatir dengan berbagai kabar dan isu. Landasan iman kita hanyalah Allah. Yakini bahwa Dia yang berkuasa itu akan menjaga dan memelihara. (RM)
Published with Blogger-droid v1.7.4