Selamat datang di Crent Regeneration.

Terimakasih atas kunjungan anda.
"Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,"
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."(Ef 2:19,8-10)

8/22/2011

"MOBILISASI JEMAAT"

Kisah Para Rasul 6:1-7imm

Gereja merupakan suatu organisme yang hidup dengan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sehingga dapat menyembah, bersekutu, bertumbuh, melayani, dan menginjili. Namun gereja yang hidup, dinamis, dan berkembang juga membutuhkan organisasi yang tertib supaya dapat berjalan baik. Bila tidak, kehancuran bisa terjadi.

Inilah yang dihadapi jemaat mula-mula dalam tahun-tahun permulaan gereja. Pada saat jemaat masih kecil dan urusan belum banyak, para rasul masih dapat menangani banyak hal. Namun ketika gereja bertumbuh menjadi besar, perkara gereja pun bertambah. Apalagi bila jemaat berasal dari multi etnis dengan latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda, seperti jemaat mula-mula. Tidak heran, ada kebutuhan jemaat yang terabaikan seperti para janda Yahudi yang berasal dari luar wilayah. Mungkin karena ada diskriminasi di lapangan atau ketidaksengajaan para rasul karena harus fokus memberitakan Injil, sehingga lalai dalam memperhatikan kebutuhan mereka. Menghadapi situasi demikian, mereka segera menyelesaikan dengan bijaksana sehingga tidak memberi tempat bagi Iblis untuk menghancurkan kesatuan gereja. Atas permintaan mereka, jemaat memilih tujuh orang berkualitas (3) yaitu punya karakter baik, penuh iman, (kuasa dan karunia) Roh, dan hikmat, untuk membantu mereka melaksanakan tugas pelayanan diakonia gereja. Inilah syarat utama bagi para pelayan Tuhan. Demikianlah, para pemimpin tidak bisa sendiri dalam melakukan segala hal, melainkan perlu memobilisasi anggota jemaat untuk terlibat dalam segala bidang pelayanan sesuai karunia masing-masing. Semua harus bekerja sama sambil tetap fokus pada pelayanan masing-masing agar Injil terus tersebar dan banyak orang percaya kepada Yesus.

Bagaimana dengan sikap kita dalam melayani? Apakah hanya mau mengerjakan segala sesuatu sendirian karena sulit memberikan kepercayaan kepada orang lain? Ingatlah, kemampuan dan waktu kita terbatas. Maka libatkan orang lain agar kita bersama dapat melakukan pekerjaan yang besar bagi Tuhan di dunia ini.(R)
Published with Blogger-droid v1.7.4

8/19/2011

"BAGAI BENIH"

BAGAI BENIH.
Kisah Para Rasul 8:1b-3

Ada kontras dalam sikap orang yang ada di dalam perikop ini. Kelompok pertama adalah mereka yang melakukan penganiayaan hebat terhadap jemaat di Yerusalem (1b). Penganiayaan ini dimulai setelah kematian Stefanus. Saulus, yang semula terlihat hanya menjadi saksi mata peristiwa berdarah tersebut (1a), kemudian menjadi sangat agresif. Ia berupaya keras menangkap dan memenjarakan orang-orang Yerusalem, yang teridentifikasi sebagai pengikut Kristus (3). Sebelumnya perlawanan terhadap Injil diarahkan kepada para rasul, tetapi pada waktu itu orang-orang yang baru percaya menjadi sasaran mereka.

Kelompok kedua adalah yang disebut orang-orang saleh. Mereka meratapi kematian Stefanus dan menguburkan mayatnya (2). Tindakan mereka berisiko tinggi karena dengan demikian mereka akan dikenali sebagai pengikut Kristus. Nyawa mereka terancam. Namun mereka seolah tidak peduli. Kematian Stefanus tidak membuat mereka mundur dari apa yang seharusnya mereka lakukan. Terlihat juga kemudian, dikuburnya Stefanus bagai dikuburnya sebuah benih. Seolah mati, tetapi sesungguhnya sebuah proses pertumbuhan sedang terjadi hingga menghasilkan buah berkali-kali lipat banyaknya.

Kematian Stefanus karena dirajam menjadikan dia sebagai martir pertama. Di masa-masa berikutnya, banyak orang yang juga mati martir. Misalnya di negara-negara dengan dominasi agama atau politik tertentu, orang harus mempertaruhkan nyawa demi pekabaran Injil. Mungkin ada orang yang menyebut mereka bodoh, tetapi Injil tidak akan mati oleh karena kematian mereka. Buah dari kesaksian mereka niscaya terlihat kemudian karena Injil yang diberitakan akan hidup dalam diri orang-orang yang jadi percaya Kristus.

Sebab itu kita harus berdoa bagi mereka, yang mewartakan Injil di tempat-tempat berisiko tinggi seperti di medan perang, di area konflik berdarah, atau di suku-suku terbelakang. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian, kita harus mendukung mereka yang berada di garis depan agar benih-benih Injil terus disebarkan dan banyak orang percaya Kristus. IMANUEL.
Published with Blogger-droid v1.7.4

8/18/2011

"BANGKIT DARI PERASAAN DITINGGALKAN"

Mazmur 22:24-32
Pujian kepada Allah selalu mengangkat hati manusia ke tempat yang lebih tinggi. Pujian yang tulus memberikan ruang kepada si pemuji untuk melihat keperkasaan Allah di takhta-Nya yang maha tinggi. Pada saat yang sama, si pemuji pun akan melihat bahwa persoalan dirinya yang begitu membelenggu dan mengerdilkannya ternyata jauh lebih kecil daripada kebesaran dan kedahsyatan Allah.

Bagian kedua Mazmur 22 ini adalah pernyataan iman si pemazmur bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah yang peduli kepada orang yang tertindas (25-27) dan yang akan menundukkan mereka yang sombong dan memberontak kepada-Nya (30). Oleh karena itu, pemazmur bangkit dari kegalauan perasaan diabaikan Tuhan dan mulai mengajak umat Tuhan untuk memuji Dia (24).

Perhatikan apa tekad pemazmur (26). Pertama, pemazmur hendak memuji-muji di tengah jemaat. Ia hendak menyaksikan kebesaran Tuhan dalam ibadah raya. Kedua, pemazmur hendak membayar nazar di hadapan orang yang takut akan Tuhan. Membayar nazar adalah menepati janji yang ia ucapkan di hadapan Tuhan. Entah apa nazar si pemazmur saat menghadapi situasi sulit ini. Ayat 24-32 ini tidak berarti diucapkan setelah masalah selesai. Sekali lagi pemazmur tidak mau tunduk pada perasaan galaunya, tetapi memercayakan diri pada keadilan dan kekuasaan Tuhan dan menganggap seolah-olah Tuhan sudah turun tangan.

Tindakan bersyukur, memuji Tuhan, dan mengajak umat menyembah Tuhan adalah sebuah tindakan iman. Iman berarti bukan mendapat jawaban baru percaya Tuhan, tetapi saat menanti pun sudah memercayakan diri pada Dia dan sudah melihat dengan kaca mata iman, penyelesaian yang akan Tuhan lakukan. Seperti yang diungkapkan pemazmur dalam penutup mazmurnya (32), "Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya." HALELUYA...
Published with Blogger-droid v1.7.4

"KUASA ALLAH DAN PENGGENAPAN-NYA"

Yosua 3:14-17
Para pesulap masa kini mampu menyajikan tontonan yang luar biasa, misalnya berjalan di atas air. Tontonan itu sudah dikemas dengan teknik tipuan yang hebat. Sekalipun penonton mengaguminya, sebenarnya berjalan di atas air itu hanya beberapa detik saja.

Terbelahnya sungai Yordan bukanlah perkara tipuan mata atau kecanggihan teknologi pada masa itu. Ayat 15 menerangkan bahwa waktu itu musim menuai dan air sungai Yordan sedang melimpah sampai ke tepian. Atas penentuan kuasa Tuhan, sungai yang besar dan deras itu terbelah dua selama beberapa lama, sampai seluruh Israel menyeberang dengan selamat. Dituliskan bahwa Israel menyeberang "di tanah yang kering" (17). Luar biasa bukan?

Kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir dengan melintasi Laut Teberau yang terbelah dua, terjadi dalam rangka pembebasan umat Israel dari perbudakan Mesir. Namun kali ini bangsa Israel melintasi sungai Yordan adalah dalam rangka penaklukan Kanaan. Dua situasi dari zaman yang berbeda, tetapi dengan satu kepemimpinan yang sama, yaitu Tuhan yang berdaulat mutlak atas alam semesta. Tuhanlah yang menyeberangkan umat-Nya. Sama seperti pada peristiwa pertama, Israel telah lepas secara tuntas dari perbudakan Mesir, begitu pula pada peristiwa kedua Israel lepas sama sekali dari perjalanan padang pasir. Israel telah siap memasuki Tanah Perjanjian. Tuhan yang memampukan mereka menyeberangi sungai Yordan akan memimpin mereka menaklukkan tanah Kanaan.

Mukjizat terbelahnya sungai Yordan adalah pernyataan penyertaan Tuhan atas umat-Nya yang ajaib. Bagi bangsa Israel, ini sekali lagi merupakan tanda penguat keyakinan bahwa Allah benar-benar serius dalam menggenapi janji-Nya kepada nenek moyang mereka, Abraham. Allah mereka memang Allah yang maha kuasa. Tidak ada yang dapat menghalangi rencana-Nya digenapi atas umat-Nya. Percayalah bahwa Allah yang sama di dalam Kristus juga menyertai kita, dan dengan kemahakuasaan-Nya sedang menggenapi sampai tuntas janji keselamatan-Nya sampai kita pulang ke surga.
Published with Blogger-droid v1.7.4

8/13/2011

"SAMPAI KE UJUNG BUMI."

Kisah Para Rasul 8:26-40

Secara aktif, Allah menggenapi kehendak-Nya bagi dunia ini. Yudea dan Samaria sudah menikmati kasih karunia yang begitu besar itu. Maka tiba saat bagi ujung bumi untuk juga mendapatkan kesempatan.

Seorang pejabat negara Etiopia, salah satu wilayah yang terbilang ujung bumi pada masa itu, sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Kalau kita melihat jabatannya, tak dapat disangkal bahwa dia adalah orang penting di negerinya. Meski demikian, dia datang bukan dalam rangka melakukan perjalanan dinas, melainkan karena ingin beribadah di Yerusalem. Ternyata kesuksesannya dalam karier tidak membuat dia abai akan kebutuhan rohaninya. Sebab itu dia mencari Tuhan.

Tuhan mengambil kesempatan istimewa itu dan mengarahkan Filipus ke Gaza untuk menemui si pejabat Etiopia. Sekali lagi Roh Kudus memimpin Filipus untuk menginjili seseorang, dan orang itu bukan berasal dari ras Yahudi. Maka mau tidak mau, Filipus harus menghancurkan sekat ras dan mendampingi sang pejabat untuk menjelaskan tentang "Hamba yang menderita", seperti yang tertulis dalam nubuat Yesaya. Melalui penjelasan Filipus, sida-sida Etiopia itu memperoleh apa yang dia cari selama ini dengan ketekunannya beragama Yahudi yaitu tersingkapnya rahasia Injil bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menderita sengsara demi menanggung dosa dunia. Maka sebagai respons, sang pejabat Etiopia memberi diri dibaptis. Lukas mencatat bahwa pembesar Etiopia itu meneruskan perjalanannya dengan sukacita, suatu ungkapan ekspresi dari orang yang bertobat.

Pertobatan pejabat Etiopia itu menunjukkan bahwa Injil bersifat inklusif. Tidak ada halangan baik yang bersifat fisik, ras, atau kondisi geografis yang dapat membuat manusia tidak terjangkau Injil. Karena Allah memang berkehendak agar orang dari berbagai ras datang dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kiranya kehendak Allah itu menjadi kerinduan kita juga. Doakanlah orang-orang yang peradabannya tidak tersentuh modernitas, agar kasih karunia Tuhan menjangkau mereka juga hingga dapat mendengar Injil.
Published with Blogger-droid v1.7.4

"DENGAN MOTIVASI YG KUDUS."

Kisah Para Rasul 5:1-11

Jemaat mula-mula yang begitu dinamis dan bertumbuh karena karya Allah yang begitu nyata melalui Roh Kudus-Nya, harus ternodai oleh perbuatan Ananias dan Safira.

Mereka berdua tergerak untuk mengikuti apa yang Barnabas lakukan (Kis. 4:36-37), dengan menjual dan mempersembahkan harta benda mereka. Namun mereka melakukannya bukan dengan tulus, melainkan karena ingin mendapat pujian manusia. Mereka jatuh ke dalam jerat Iblis karena menahan sebagian dari janji iman untuk memberikan seluruh hasil penjualan tanahnya. Mereka mengambil bagian yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan.

Mereka memakai topeng kemunafikan dengan hanya memperlihatkan bagian luar yang indah untuk menutupi dosa di dalam hati mereka. Kata Ananias berarti Allah itu pemurah, tetapi nyatanya ia tidak menghormati Allah yang suci. Safira berarti cantik, tetapi hatinya tidak cantik. Mereka telah bersekongkol untuk mendustai Roh Kudus dan mencuri kemuliaan Allah. Perbuatan mereka akan merusak keharmonisan jemaat yang baru terbentuk. Itu sebabnya Allah menghukum mereka. Tindakan Allah yang begitu keras ini perlu dilakukan pada permulaan gereja Tuhan, sebagaimana Dia lakukan pada permulaan pendirian kemah Suci dengan menghukum Nadab dan Abihu karena mempersembahkan "apa yang asing" kepada Tuhan (Im. 10). Allah mau menunjukkan kekudusan serta keseriusan-Nya terhadap dosa. Dampaknya luar biasa. Rasa takut akan Tuhan melanda seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar kabar itu (11).

Allah memang tidak bisa dipermainkan. Ia tahu isi hati manusia, yang terdalam sekali pun. Tak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Karena itu jangan pernah main-main. Bila kita ingin melakukan sesuatu untuk Tuhan dan karena Tuhan, lakukanlah dengan benar. Jangan karena paksaan atau didorong motivasi yang tidak kudus. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah memaksa kita. Lakukanlah segala kebaikan karena ungkapan syukur dan pujian kita kepada Dia yang telah begitu baik kepada kita. (c)
Published with Blogger-droid v1.7.4

"PERTOBATAN SEJATI"

Nats : ... hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan (Matius 3:8)

Bacaan : Ulangan 1:41-46

Apa bedanya bertobat dan menyesal? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa penyesalan adalah pengakuan yang menyatakan bahwa kita telah salah langkah. Sementara itu, pertobatan adalah pengakuan ditambah sikap rela memperbaiki kesalahan, dengan cara kembali tunduk pada perintah-perintah Allah. Pertobatan tanpa kesediaan untuk memperbaiki diri bukanlah pertobatan, melainkan baru penyesalan.

Untuk lebih memahami perbedaan keduanya, mari kita menyimak kisah yang ditulis dalam Ulangan 1 ini. Allah memerintahkan bangsa Israel untuk pergi dan menduduki pegunungan Amori (1:7), tetapi mereka menolaknya. Walaupun bangsa Israel memiliki alasan (1:28), jelas bahwa hal ini merupakan pemberontakan terhadap Allah, Sang Pemberi perintah. Dan, pemberontakan tersebut akhirnya mendatangkan penghukuman bagi mereka. Akan tetapi, ternyata berita penghukuman dari Allah tersebut tidak membawa mereka pada pertobatan, tetapi hanya sampai pada titik penyesalan. Mereka mengaku salah dan dengan emosional menyatakan hendak memperbaiki kesalahan dengan menyatakan diri siap untuk berperang. Akan tetapi, kali ini Allah melarang mereka untuk maju berperang. Ironisnya, sekali lagi mereka tidak mau mendengar dan taat pada perintah Allah.

Pertobatan tanpa disertai kesediaan untuk taat kepada Allah adalah pertobatan yang semu. Jadi, pertobatan bukanlah sekadar mengaku perbuatan-perbuatan salah lalu dengan emosional berupaya memperbaiki kesalahan tersebut. Pertobatan yang sejati hanya terjadi apabila kita bersedia merendahkan dan menundukkan diri kita kembali di hadapan Allah.

BERHATI-HATILAH DENGAN PERTOBATAN YANG EMOSIONAL

KARENA JANGAN-JANGAN PERTOBATAN ITU PALSU.(@)
Published with Blogger-droid v1.7.4